Site icon OneStopVisaBali.com

Pengguna Android Diserang Malware WindRelay Kloning Kartu Dalam 13 Menit

OneStopVisaBali.com – Para peneliti keamanan baru-baru ini mengungkapkan adanya kampanye cyber yang canggih, di mana para peretas mengubah smartphone menjadi perangkat Point of Sale (POS) untuk mencuri informasi kartu pembayaran secara langsung. Dalam laporan yang disusun oleh Group-IB, serangkaian serangan ini berhasil teridentifikasi di Eropa Timur, khususnya di negara-negara seperti Ceko, Slovakia, dan Slovenia.

Kampanye bernama WindRelay ini melibatkan teknik vishing, di mana pelaku menghubungi target dan berpura-pura menjadi pegawai bank, mengklaim bahwa ada masalah dengan kartu bank korban. Mereka kemudian meminta korban untuk menginstal perangkat lunak bernama SpyNote dalam upaya memperkaya teknik penipuan ini. SpyNote berfungsi sebagai Trojan Akses Jarak Jauh (RAT) yang dipersonalisasi, yang dirancang untuk meyakinkan korban agar mau mengizinkan akses ke perangkat mereka.

Kinerja Teknik Vishing yang Efektif

Dalam praktiknya, para peretas memulai dengan melakukan riset mendalam tentang target mereka, mengumpulkan informasi identitas dan nomor telepon. Penyerangan ini sangat canggih, dengan laporan menunjukkan bahwa para peretas mampu menciptakan malware yang disesuaikan secara personal untuk setiap korban. SpyNote, yang diinstal oleh korban sendiri, kemudian digunakan untuk menginstal malware WindRelay, yang secara khusus dirancang untuk menangkap data kartu pembayaran saat kartu ditempelkan pada perangkat yang terinfeksi.

Melihat pola serangan ini, peneliti mencatat bahwa metode yang digunakan sangat menargetkan individu, sehingga hanya segelintir orang yang menjadi korban. Dalam sebuah peristiwa, pelaku bahkan berhasil mengajukan pinjaman di bank korban, mencuri tidak hanya uang yang ada di rekening tetapi juga sejumlah dana yang seharusnya didapatkan di masa depan.

Risiko Terhadap Keamanan Data Pribadi

Walaupun metode ini bukanlah yang baru, teknik kombinasi vishing dan malware yang dikembangkan dalam kampanye ini menunjukkan tingkat kecanggihan yang baru. Rata-rata durasi panggilan dari pelaku kepada korban bisa mencapai 13 menit, waktu yang cukup bagi pelaku untuk membujuk korban agar melakukan langkah-langkah berbahaya tersebut.

Berdasarkan temuan Group-IB, serangan ini menunjukkan bahwa penyerang memiliki kemampuan untuk membangun aplikasi berbahaya yang disesuaikan dengan preferensi dan situasi korban. Mereka memastikan para korban menerima permintaan yang tampaknya “akurat” dengan menggunakan informasi yang relevan dari lembaga yang mereka tiru, termasuk penggunaan bahasa lokal.

Kesimpulan

Kampanye cyber ini menyoroti pentingnya kewaspadaan dalam melindungi data pribadi dan finansial. Group-IB memperingatkan pengguna agar lebih skeptis terhadap aplikasi yang dipersonalisasi dan selalu waspada terhadap aplikasi yang mengharuskan akses ke informasi sensitif. Penelitian ini merupakan pengingat pentingnya menjaga privasi dan keamanan serta dapat menjadi perhatian bagi setiap pengguna smartphone di seluruh dunia.

Exit mobile version